Manchester City sedang berada dalam periode yang jarang mereka alami di bawah asuhan Josep Guardiola. Dibawah ini akan ada penjelasan tentang berita Manchester City menarik lainnya di MANCITY FAN.

Kekalahan mengejutkan 1-3 dari Bodo/Glimt di Norwegia menjadi simbol betapa rapuhnya performa sang juara bertahan Liga Champions saat ini. Bermain di Aspmyra Stadion yang penuh tekanan, City gagal mengontrol permainan dan justru terseret ritme agresif tuan rumah.
Hasil tersebut bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan lanjutan dari tren negatif sejak memasuki tahun 2026. City kesulitan meraih kemenangan, baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Situasi ini membuat posisi mereka di Liga Champions semakin terancam, terutama dalam upaya lolos otomatis ke fase gugur.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Guardiola pun tak mampu menyembunyikan frustrasi. Gestur dan ekspresinya di pinggir lapangan mencerminkan kebingungan menghadapi kondisi tim yang seolah kehilangan arah dan kepercayaan diri.
Mental Juara yang Mulai Terkikis
Guardiola secara terbuka mengakui bahwa banyak hal berjalan melawan Manchester City dalam beberapa pekan terakhir. Ia merasa keberuntungan yang biasanya berpihak kini justru menjauh. Detail-detail kecil, yang selama ini menjadi kekuatan City, berubah menjadi faktor penghukum.
Kekalahan dari Manchester United sebelumnya menambah beban mental para pemain. Ketika tekanan meningkat, City justru terlihat kesulitan menjaga fokus dan ketenangan. Hal ini sangat kontras dengan citra mereka sebagai tim yang dingin dan efisien.
Menurut Guardiola, situasi seperti ini harus dihadapi dengan keberanian untuk berubah. Ia menyadari bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, dan satu-satunya jalan adalah memperbaiki performa secepat mungkin.
Baca Juga: Manchester City Hadapi Jalan Terjal untuk Datangkan Marc Guehi
Skuad Pincang dan Konsistensi yang Hilang

Masalah City tidak berhenti pada mentalitas. Badai cedera menjadi pukulan besar yang mengganggu keseimbangan tim. Saat bertandang ke Norwegia, City harus tampil tanpa 11 pemain senior yang biasanya menjadi tulang punggung permainan.
Absennya pemain-pemain kunci membuat konsistensi permainan runtuh. Alur umpan tidak sehalus biasanya, koordinasi antar lini terganggu, dan kepercayaan diri pemain pengganti belum sepenuhnya terbentuk. Guardiola bahkan mengakui timnya terlihat rapuh, mengingatkan pada fase sulit musim lalu.
Kondisi ini memaksa City bermain dengan sumber daya terbatas, sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa musim terakhir. Dampaknya sangat terasa saat menghadapi lawan yang bermain disiplin dan penuh energi.
Kekalahan Menyakitkan dan Pembelaan Guardiola
Bodo/Glimt memang berstatus tim kecil jika dibandingkan dengan City, namun mereka tampil tanpa rasa gentar. Guardiola dengan jujur mengakui kehebatan lawannya dan menolak anggapan bahwa City meremehkan pertandingan tersebut. Ia menilai kemenangan tuan rumah sepenuhnya layak.
Situasi City semakin buruk setelah Rodri menerima kartu merah. Kehilangan gelandang kunci di tengah laga membuat peluang bangkit semakin tipis. Meski begitu, Guardiola memilih untuk membela Rodri, yang baru kembali dari cedera panjang.
Ia menilai kartu kuning kedua terasa berlebihan dan memahami reaksi spontan sang pemain dalam situasi transisi cepat. Bagi Guardiola, menyalahkan individu bukan solusi, melainkan refleksi menyeluruh yang kini harus dilakukan Manchester City. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita Manchester City menarik lainnya di mancityfantv.com
